Title : On rainy days
Author : Arianti Pratiwi @TiwiMinam
Main Cast : Son Dongwoon B2ST, Kim Ji Eun
Type/Genre : Sadness
Length : Part
Disclaimer : Ide FF ini terinpirasi dari lagu B2ST yang berjudul “On Rainy Days” semua ini hanya fiksi belaka. hanya sebatas fantasi seorang Ratu yang gak berhenti berimajinasi. TAKE OUT WITH FULL CREDIT.No Copy Paste and Dont Be Silent Reader
***
“Apa kabar
Ji Eun?”
Aku
menjatuhkan payungku dan melongo, ini nyata atau aku sedang berhalusinasi
seperti beberapa hari yang lalu. Aku benar-benar melihat sosok itu dan
senyumnya didepan mata ku, sangat dekat. Aku masih terus mengamatinya, apa ini
kenyataan. Sosok itu melambai-lambaikan tanganya didepan mataku. Aku mencubit
sedikit telapak tangan ku dan rasanya sakit. Ini nyata, aku tidak sedang
bermimpi, dia yang ku rindukan selama 6 tahun ada didepan ku. Dongwoon kembali
pada kehidupanku.
Aku mulai
menangis seperti anak-anak, sangat keras mungkin. Orang-orang sekelilingku
memadangiku aneh. Tapi aku tak peduli, mereka tak tahu bagaimana kisah ku
dengan orang yang berdiri didepanku saat ini dan mereka tidak tahu seberapa
besarnya rinduku pada sosok ini.
“Heiii...bocah!!
apa yang kau lakukan. Berhenti menangis, kau membuat ku malu didepan
orang-orang. Mereka akan mengira kalau aku berbuat macam-macam padamu. Cepat
hapus air mata mu”
“Aku...aku...sudah...mencoba
menghentikannya,....tapi...air mataku....tak mau berhenti. Bagaimana ini?” aku
bicara dalam isak ku. Sangat aneh kedengarannya.
Dia hanya
tertawa mendengarkan suara ku yang aneh.
Tiba-tiba menarikku dalam pelukannya yang besar. Bukannya reda tapi
tangisanku semakin keras. Aku membalas pelukannya, bahkan sangat erat.
“Ahhhh....lihat
sepertinya kau benar-benar mencintaiku”
Aku memukul
belakangnya. Dia hanya tertawa dan memelukku erat. Benar-benar hangat
dipelukannya. Dia berbeda sekarang, badannya tegap dan besar, jari-jarinya yang
hangat, dan suaranya yang semakin dewasa. Tapi aku suka seperti ini, aku ingin
seperti ini selamanya.
Kami
berjalan menuju taman kota, dia mengutang banyak penjelasan padaku. Hari ini
aku menagi semuanya hingga akar-akarnya. Kami memilih salah satu tempat duduk
di bawah pohon rindang. Hujan sudah reda, kayu dan tanah yang basah tercium
jelas. Udara juga terasa sejuk.
“Jadi,
kemana kau selama ini” tanyaku tak sabar. Dongwoon hanya tersenyum dan menutup
mulutnya rapat.
“Heiii...aku
tanya padamu!!!!!”
“Bisakah
kau tak usah tau tentang itu. Aku sudah berada disini sekarang. Jadi, itu tidak
penting lagi” aku menatapnya sinis,
“Ayolah...Ji Eun”
Aku tersenyum, lucu
melihat wajahnya seperti itu. Aku mengangguk, “Baiklah...”
Tapi ini benar-benar tidak
adil. Dia menyuruh ku menceritakan semua kisahku padanya, semenjak kami tidak
bersama-sama lagi. Akupun menceritakan hidupku dari A-Z, secara mendetail dan
aku lihat dia sangat menikmatinya, kadang dia mengangguk, terdiam, seperti
memikirkan sesuatu, tersenyum, bahkan tertawa. Aku suka reaksinya itu, dia
masih seperti yang dulu, pendengar cerita yang baik. Tidak terasa hari sudah
mulai gelap, kami menghabiskan waktu berjam-jam di taman hanya untuk cerita ku.
Dongwoon menawarkan diri mengatarku pulang dengan bus. Saat ini kami sudah ada
di depan gedung apartemen ku.
“Kau tidak ingin masuk”
tanyaku.
“Lain kali saja, kau
masukalah, istirahat. Kita sudah menghabiskan waktu seharian ditaman kota”
“Besok kita bertemu
lagikan”
“Hmmm....pasti. masuklah”
dia tersenyum
Aku mengangguk, lalu
berjalan menuju apartemen ku...
“Ji Eun-aah...!!!!” aku menoleh
“Aku selalu merindukanmu!!!!”
Aku tertawa. “Aku
tauuuuuuu....sana pulanglah. Hati-hati”
Dongwoon melambaikan
tangannya padaku, lalu beranjak pergi. Hari yang sangat menyenangkan, hari yang
tak pernah ada dalam mimpi-mimpiku selama ini. Bahkan kalau mimpipun aku tak
pernah ingin bangun.
***
Aku duduk disamping
jendela besar tempat penyewaan komik. Sudah beberapa komik ku habiskan, tapi Dongwoon
belum datang-datang juga. Sesekali aku melirik ke jam tanganku.
Sesorang meniup telingaku,
aku langsung berteriak. Aku tahu siapa orangnya dan pelakunya sedang asik
tertawa sekarang. Karena teriakan ku, orang-orang memandangku kesal.
“Mianata...Mianata” kataku sambil membungkuk. Aku benar-benar malu
dibuatnya.
Dongwoon masih terus saja tertawa, aku kesal padanya. Kerena tak
tahan lagi, aku lalu memukulnya dengan komik di tangan ku. Dia berteriak
kesakitan. Dan lihat orang-orang memandangi ku lagi, sinis. Akhirnya aku
berhenti melakukannya.
“Itu sakit. Lagi pula kau
terlalu sibuk dengan komik dan headset mu itu. Aku dari tadi melihatmu dari
luar jendela, lalu mengetuknya beberapa kali, tau kau tetap saja sibuk dengan
duniamu sendiri”
“Benarkah?” aku
mengerlingkan mataku padanya.
“Hmmm...lagu apa yang kau
dengar?”
Dongwoon lalu mengambil
sebelah headset dari telingaku. Aku melihat jari-jarinya bergerak diatas meja,
seperti memainkan piano. Aku lihat dia juga sangat menikmatinya.
“Lagunya enak, apa
judulnya?”
“ On rainy days” aku
tersenyum.
Dongwoon berhenti memaikan
jari-jarinya lalu diam menatapku. Aku melihat sedikit demi sedikit bibirnya
membentuk senyuman.
“Sepertinya aku tahu
kenapa kau menyukai lagu ini” senyumnya hangat sekali.
“Hmm..kau memang tahu”
kami tertawa. Lalu terdiam menikmati lagu itu.
Beberapa hari ini
kuhabiskan waktu ku bersama Dongwoon. Selesai kuliah dia pasti datang
menjemputku. Lalu kami pergi berjalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama.
Benar-benar sangat menyenangkan, aku tak sendiri lagi menikmati hujan. Sore,
dihari yang mendung dia mengantar ku kembali ke apartemen seperti biasanya.
“Ji Eun...kau bahagia?”
“Menurutmu?” aku balik
bertanya.
“Hmm...kau bahagia”
“Sangat....” tambahku.
Dongwoon hanya tersenyum,
lalu menyuruhku masuk karena hujan akan segera turun. Aku juga menyuruhnya
cepat-cepat pulang, takut dia nanti kehujanan.
Aku masuk dalam
apertemenku, ternyata Yi Seul sudah ada dirumah. Dia menatapku khawatir dan
sepertinya dia tak tenang
“Wae? Apa
terjadi sesuatu?” tanyaku penasaran.
“Ahjumma menyuruh
kita pulang sekarang. Aku sudah memesan tiket”
“Tunggu ada apa ini, apa
terjadi sesuatu pada Appa ku” aku mulai panik. Aku mencoba
meraih handphone ku dan langsung menghubungi nomor eomma
“Yeoboseyo eomma, ada apa ini.....apa maksudmu aku tak boleh panik. Tapi kenapa aku
harus ke Busan...sesuatu terjadi pada Appa....tapi....tapi....jangan buat aku
bingung Ma. Baiklah aku akan segera pulang” aku menutup telpon ku.
“Kalian benar-benar
membuatku gila. Tunggu, aku akan mengambil barang-barang yang harus ku bawa”
Kami sudah duduk dalam kereta, kami menggunakan kereta cepat jadi kami bisa tiba di busan hanya dalam 2
jam. Aku ingat aku belum memberitahu Dongwoon kalau
aku harus ke Busan, dengan alasan yang tidak jelas. Aku mengeluarkan Hp ku dari
dalam tas dan ingin mengatifkannya kembali.
“Ji Eun ya.. Gwenchanayo?” kata Yi Seul
“Aku belum mengabari Dongwoon
tentang ini” gerutuku.
“Ji Eun...jeongmal gwenchana? Akhir-akhir ini kau bersikap aneh”
“Itu karena aku bahagia Yi Seul. Berhenti menganggap ku aneh, yang aneh itu kau dan eomma. Aku ingin tidur”
Aku menutup wajahku dengan
selimut. Aku mencoba tidur, tapi aku juga masih terus berpikir, ada yang aneh
dengan orang-orang didekat ku. Ahhhh....bodoh. aku memaksakan mataku untuk
tertutup dan berharap aku benar-benar terlelap.
***
“Pa...sebenarnya kita mau
kemana? Inikan bukan arah rumah kita”
“Appaaa...yang ku
butuhkan saat ini hanya kasur empukku dirumah bukan perjalanan atau liburan
mewah” protesku.
Yang ku tanya dari tadi
hanya menutup mulutnya rapat-rapat. Lalu dia langsung mambawa ku dan Yi Seul
entah kemana saat ini, sudah hampir sejam kami diperjalanan. Papa tak mau
memberitahu kami. Jadi aku hanya diam saja dan mencoba untuk tidur lagi.
Yi Seul mengunjang-gunjang
bahuku. Aku membuka mata lalu melihat sekelilingku, sepertinya sudah sampai.
Tapi dimana ini, Rumah sakit. Aku kaget dan menatap Papa lekat
“Apa yang terjadi pada Eomma?
Hanya Eomma yang tak ada disini’ aku mulai berteriak pada Papa ku
“ Tenang Ji Eun, ini bukan
tentang Eomma mu dia baik-baik saja didalam”
Ini membuatku sakit
kepala, kenapa keluargaku membuatku bingung. Aku mengikuti Papa, disalah satu
lorong aku melihat Eomma sedang duduk. Saat dia melihatku, Eomma belari ke arah
ku dan memelukku.
“Ada apa Ma? Siapa yang
ada didalam ruangan itu?”
“Tenang Ji Eun...kajja...” Eomma menarik tangan ku lembut.
Pintu bercat putih gading
itu diketuk Eomma lembut. Seseorang membukanya dari dalam.
“Ahjumma...!!!!”
dia Eommanya Dongwoon, apa yang dia lakukan disini, aku melihat wajah cantiknya
yang payah dan matanya yang sembab. Tunggu, aku tahu. Aku menerobos masuk.
Didalam ruangan aku melihat seseorang terbaring dengan selang diseluruh
tubuhnya. Aku terus mendekat, mencoba membuang semua pikiran burukku, berharap
sesuatu yang ku takutkan tak terjadi. Aku semakin dekat dan bisa melihat sosok
itu dengan jelas. Aku terkejut, air mataku mengalir, aku menutup mulutku tak
percaya. Dia Dongwoon, tapi bukan Dongwoon yang selama ini ku temui. Wajahnya
memang sama, tapi yang didepan ku terlihat kuyuh. Wajahnya sangat tirus,
tubuhnya juga, nafasnya sangat pendek. Dia seperti mayat hidup, aku mengangkat
tangan untuk menyentuhnya. Tapi aku lalu teringat...
“Dia siapa” pertanyaan
bodoh keluar dari mulutku. “DIA SIAPA!!!!!!!” aku mulai berteriak.
“Dia Dongwoon, Ji Eun.
Orang selama ini kau tunggu” Eomma mencoba untuk menenangkan ku.
“BUKAN MA...DIA BUKAN DONGWOON!!!!!
BEBERAPA HARI YANG LALU AKU BERTEMU DENGANNYA, KAMI BERSAMA-SAMA” aku mulai
berteriak seperti orang gila, air mataku juga sudah mulai membajiri wajahku.
Aku melihat kearah Yi
Seul. “ Yi Seul kau tahu itu kan, beberapa hari kemarin aku bersamanya kan. KAU
TAHU KAN!!!!” Yi Seul hanya tertunduk sedih.
“Kalian benar-benar
membuatku gila” aku berjalan menuju pintu. Eomma menahahanku “Aku butuh udara
segar Ma, kepala ku sakit”
Aku duduk dikursi taman
Rumah Sakit berusaha menjernihkan pikiranku. Ini tak bisa ku mengerti. Lalu aku
mengmbil Hp ku mencoba menghubungi Dongwoon, tapi berkali-kali Hp itu tak
aktif. Aku memegang kepala ku, rasanya sangat berat. Bukan hanya itu, rasa
bahagia yang pernah dihatiku kini menjadi rasa hampa. Aku menagis
sejadi-jadinya. Terlalu sakit untuk mencoba berfikir jernih. Seseorang
menyentuh pundak ku dengan lembut, aku merasakan dia duduk disampingku. Dia
hanya diam, tak berkata apa-apa. Aku masih terus saja menutup wajah dengan
telapak tangan dan menangis...
“Kau ingat waktu aku
bilang akhir-akhir ini kau terlihat aneh. Itu karena kau terlihat seperti orang
yang kurang waras. Beberapa hari saat kau bilang pergi bersama Dongwoon,
temanku melihatmu ditempat penyewaan komik bertingkah aneh. Kau tertawa dan
bercerita sendiri. Awalnya aku tak percaya, jadi aku mengikutimu. Dan kulihat
memang seperti itu. Kau memang sangat bahagia, tapi terlihat aneh karena tak
ada orang disampingmu, kau seperti orang gila. Lalu aku menceritakan semua pada
eomma mu, hingga aku mendapatkan kabar kalau Dongwoon sedang Koma
disini”
Aku semakin terisak
mendengar penjelasan Yi Seul. Apa aku benar-benar seperti itu. Aku tak bisa
menahannya lagi. Tangisku semakin keras, Yi Seul menarikku dalam pelukannya,
dia juga mengusap-usap bahuku.
“Maaf...karena awalnya aku
mengira kau benar-benar gila karena lelaki itu. Tapi sepertinya aku mengerti
sekarang Ji Eun. Kuatkan dirimu”
Aku tak tahu sudah berapa
menit kami terdiam seperti ini. Aku sudah mulai bisa mengontrol perasaanku, Yi
Seul benar saat ini aku tidak harus menangisi semua ketololan yang pernah
kulakukan. Yang ku butuhkan hanyalah ketegaran untuk bertemu dengan Dongwoon
lagi. Dongwoon yang tak sesuai dengan harapan-harpan ku.
“Ji Eun...Tante boleh
bicara sebentar”
Aku menoleh kearah suara.
Aku tersenyum dan mengangguk. Yi Seul juga tersenyum padaku lalu meninggalkan
kami berdua. Eomma Dongwoon duduk disebelahku, menyentuh tanganku dan
mengelusnya lembut.
“Tante...tadi....mianhaeyo...jeongmal…”
“Tidak apa-apa Ji Eun, aku
tahu saat ini kau pasti kebingungan. Maaf kan tante yang merahasiakan ini
terlalu lama padamu”
“Maksud tante?” aku mulai
penasaran.
“Kau ingat waktu Dongwoon
kecelakan didepan sekolah mu. Saat itu dia benar-benar butuh darah. Darahnya
hanya cocok dengan Papanya, tapi kau tahu kami sudah bercerai saat itu.
Keluarga juga sangat jauh, akhirnya dokter memutuskan untuk mencari pendonor
darah saja. Seminggu kemudian dokter mengetahui kalau darah donor itu
terinfeksi AIDS” aku mendengar Eomma Dongwoon tercekat saat mengatakan itu, aku
juga.
“Saat itu aku mengamuk, ingin rasanya aku
membunuh dokter yang telah membuat anak ku harus terjangkit penyakit setan itu.
Aku merahasiakan ini semua pada Dongwoon. Tapi aku tidak tahu dari mana dia
tahu masalah itu dan dia juga mengerti. Sejak saat itu dia hanya berbicara
tentang mati, lama kelamaan dia mulai menerimanya. Tapi dia memutuskan untuk
pindah kekota lain. Dia takut bertemu denganmu, karena akan membuatmu sakit
seperti yang dia derita. Sejak saat itu dia tak mau sekolah formal lagi.
Kehidupan kami mulai normal dikota baru. Tapi Dongwoon sudah mulai tertutup
dengan dunia luar, aku menerapakan Home schooling untuk metode pendidikannya.
Saat mulai SMA, dia membujukku untuk kembali kesini. Dia ingin melihatmu tambah
sepengetahuanmu. Dia mencari tahu semua pada Eommamu dan Mereka menjadi partner
yang kompak...”
“Jadi selama ini Eomma
tahu tentang Dongwoon?” aku tak bisa percaya ini, air mataku mulai jatuh lagi.
“Tapi jangan menyalahkan Eommamu
tentang ini Ji Eun... Dongwoon yang memintanya untuk merahasiakan semuanya. Dia
merasa dirinya tak cocok lagi bertemu denganmu. Saat kau pulang sekolah dia
selalu menunggumu diseberang jalan. Dia juga sempat memotretmu, mungkin
beribu-ribu kali. Setiap dia melihatmu lagi, aku melihat sinar lain dimatanya.
Begitu bahagia, tapi itu sangat membuatku terluka, kadang aku ingin menemuimu
dan menceritakan semuanya tapi aku takut dia drop” isakan ku mulai terdengar
keras sekarang, hatiku benar-benar sakit
“ Maafkan kami Ji Eun...kami
terlalu bodoh menyimpan semua ini dari mu”
“Lalu siapa yang bersama
ku beberapa hari yang lalu” tanyaku dalam tangis.
“Aku juga masih tidak mengerti.
Dia memang sempat beberpa bulan mengikutimu ke Korsel, tiba-tiba disana
kondisinya memburuk. Jadi aku menjemputnya, setelah itu dia tidak bisa
melakukan apa-apa lagi, dokter bilang memang sudah waktunya, karena penyakit
itu sudah menggrogotinya bertahun-tahun. Daya tahan tubuhnya bahkan sudah
mendekati nol persen. Beberpa bulan terakhir dia sempat tak sadarkan diri, ini
terjadi berkali-kali. Mungkin saat itu dia datang menemui dengan wujudnya yang
lain. Aku tak percaya dengan hal-hal seperti itu, tapi saat kau bilang padaku,
aku berpikir mungkin hal itu sedikit masuk akal”
Aku tak tahan lagi,
rasanya sakit sekali. Aku memukul-mukul bagian dadaku, berharap sakitnya
berkurang, tapi itu tidak membantu. Aku menangis, ingin rasanya berteriak.
Karena menangis rasanya tak cukup.
“Tolong jangan menyakiti
dirimu Ji Eun. Aku tahu kenyataannya sangat berat bahkan rasanya ingin mati.
Tapi, Dongwoon masih menunggumu. Kau harus tetap kuat. Tolong bahagiakan anak
Tante untuk terakhir kalinya” kami pun
menangis bersama. Aku berjanji ini mennagisku yang terakhir kalinya, Dongwoon
harus melihatku tersenyum.
***
Aku duduk disamping
ranjang Dongwoon yang masih tertidur. Kali ini selang dan pembantu
pernafasannya sudah dibuka. Aku menatap wajahnya lekat, dia sudah benar-benar
berubah menjadi lelaki yang dewasa. Tapi, dia masih tampan seperti dulu saat
masih bocah.
“Heiii....kau tidur
seperti kerbau” aku mengunjang-gunjang tangannya, dia tetap saja menutup
matanya.
Aku dengar gemuruh hujan,
sepertinya hujan deras sekali. Aku berjalan menuju jendela dan membuka
tirainya. Satu persatu titik hujan membasahi kaca jendela. Aku duduk dikursi
dekat jendela untuk menikmatinya. Sesekali aku menoleh kearah Dongwoon,
berharap dia sudah membuka matanya. Karena kurang tidur dan kelelahan aku
tertidur dikursi panjang itu. Saat aku terbangun masih saja tetap sama, dia
belum membuka matanya sama sekali. Aku duduk disampingnya lagi, lalu memaikan
jari-jarinya.
“Hmmm...” aku kaget
mendengarkan gueomman itu.
Pelan-pelan ku lihat Dongwoon
membuka matanya. Aku tersenyum, dia juga,
sedikit berat tapi tetap manis.
“
Kau...membuatku...menunggu...terlalu lama” suaranya sangat pelan, hampir
seperti berbisik dan terbata-bata.
“Maaf...aku terlalu sibuk
mencarimu ketempat lain. Lagipula, kau tau dimana tempatku berada, kenapa bukan
kau saja yang mencariku. Gengsimu terlalu tinggi” dia memukul kepala ku, tapi
pukulan tanpa kekuatan.
“ Maaf...Ji Eun.
Aku...benar-benar....minta maaf. Menyimpan....semuanya...karena....aku takut
keyataan ini...akan melukaimu. Tapi...pada...akhirnya...semua melukaimu juga”
aku mulai menangis lagi, aku mengingkari janji ku sendiri. Aku benar-benar tak
bisa menahannya, melihatnya berbicara seperti itu aku tak bisa menahannya.
“ Aku...sangat
merindukanmu Bin, aku merindukanmu...aku merindukanmu” tangisku mulai keras,
aku menundukan kepala ku diatas kasur dan menagis sejadi-jadinya. Dongwoon
mengusap-ngusap belakangku dengan lembut. Aku juga mendengarkan dia terus
mengucapkan kata maaf. Kamipun menagis bersama...
Alarm Hp ku berbunyi, aku
terbangun dari tidurku. Ternyata semalam aku ketiduran...
“Kau...terbangun?”
ternyata Dongwoon belum tidur.
“Kau tidak tidur? Kau
perlu istirahat” aku beranjak untuk mematikan alramku. Ini baru jam 2 shubuh.
Ternyata diluar masih hujan, aku menutup tirainya...
“ Jangan ditutup, aku sedang menikmatinya”
Aku tetap menutupnya.” Kau
tidur saja, sudah mulai shubuh. Kau perlu istirahat. Sebagai gantinya aku akan
memberikan pengganti hujan” aku mengambil ipod ku. Lalu memutar lagu favoritku.
“ Aku...menyukainya” dia
tersenyum.
“ Aku tahu” aku membalas senyumnya.
“Ji Eun...kau tahu kalo
dari dulu hingga sekarang aku terus...”
“Hmmm...aku tahu, semuanya
aku tahu, tanpa kau katakan pun aku tahu. Tidurlah, kau percaya padaku kan dan
bagimanapun keadaan kita selama ini aku selalu bahagia karena mu” aku tersenyum
dan merapikan selimutnya.
“Terima kasih..Ji Eun” aku
mencium keningnya. Lalu mengelus tanganya agar dia tertidur.
***
Hari sudah pagi dan masih
hujan. Suaranya masih tetap terdengar. Aku melihat Dongwoon masih tidur, sangat
lelap. Ternyata ipod ku semalam lowbath. Aku membuka jendela, terdengar jelas
suara hujan. Angin yang bertiup juga sangat sejuk. Aku merasa ada sesuatu yang
terlepas dalam hatiku, seperti beban yang terlepas dari pundakku. Tapi itu
membuatku hampa. Aku merapikan letak selimut Dongwoon, menatapnya sekilas. Lalu
berjalan keluar kamar. Aku duduk dikursi tunggu dengan tenang. Terasa sangat
sunyi, bahkan suara hujan tak lagi menarik. Aku melihat suster masuk kedalam kamar,
tidak lama kemudian dia berlari keluar memanggil dokter. Dokter segara datang
disusul Eomma dan Eomma Dongwoon. Aku tetap diam, Eomma terus bertanya tapi aku
tak menggubrisnya. Terdengar suara Eomma Dongwoon menangis dari dalam sana. Eomma
kaget, lalu memandangku aneh. Aku tetap memandang ke depan.
“Eomma...tante lebih
membutuhkan Eomma saat ini” aku tersenyum. Eomma berdiri dan masuk ke dalam
kamar.
Aku merasa air mataku
jatuh, tapi langsung menghapusnya. Sudah cukup untuk menangis dan bersedih, aku
ingin dia percaya bahwa aku benar-benar bahagia.
***
Hari ini, hari pemakaman Dongwoon.
Aku tidak mengikuti prosesinya hingga akhir. Aku ingin berjalan-jalan sebentar.
Aku berjalan dibawah gerimis, merentangkan tanganku dan menikmatinya. Terasa
titik hujan mengenai wajahku, aku menyukainya. Kita memiliki waktu yang singkat
untuk bersama, tapi memiliki waktu yang banyak untuk saling merindukan, yang
membuat kita saling memahami. Dongwoon tak meninggalkan ku sendiri, dia
mewariskan hujan padaku. Hujan yang mampu menyejukan hatiku seperti dirinya,
yang suaranya sangat merdu seperti dirinya dan mampu membuatku mengingat
tentang dirinya.
“Terima kasih, kau memberikan ku sahabat
terbaik. Yang sering kita panggil hujan.....”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar