Halaman

Senin, 01 Oktober 2012

[FF] On Rainy Days #2


Title                   : On rainy days
Author                : Arianti Pratiwi  @TiwiMinam
Main Cast          : Son Dongwoon B2ST, Kim Ji Eun
Type/Genre        : Sadness
Length                : Part
Disclaimer         : Ide FF ini terinpirasi dari lagu B2ST yang berjudul “On Rainy Days” semua ini hanya fiksi belaka. hanya sebatas fantasi seorang Ratu yang gak berhenti berimajinasi. TAKE OUT WITH FULL CREDIT.No Copy Paste and Dont Be Silent Reader


***
“Apa kabar Ji Eun?”
Aku menjatuhkan payungku dan melongo, ini nyata atau aku sedang berhalusinasi seperti beberapa hari yang lalu. Aku benar-benar melihat sosok itu dan senyumnya didepan mata ku, sangat dekat. Aku masih terus mengamatinya, apa ini kenyataan. Sosok itu melambai-lambaikan tanganya didepan mataku. Aku mencubit sedikit telapak tangan ku dan rasanya sakit. Ini nyata, aku tidak sedang bermimpi, dia yang ku rindukan selama 6 tahun ada didepan ku. Dongwoon kembali pada kehidupanku.
Aku mulai menangis seperti anak-anak, sangat keras mungkin. Orang-orang sekelilingku memadangiku aneh. Tapi aku tak peduli, mereka tak tahu bagaimana kisah ku dengan orang yang berdiri didepanku saat ini dan mereka tidak tahu seberapa besarnya rinduku pada sosok ini.
“Heiii...bocah!! apa yang kau lakukan. Berhenti menangis, kau membuat ku malu didepan orang-orang. Mereka akan mengira kalau aku berbuat macam-macam padamu. Cepat hapus air mata mu”
Aku...aku...sudah...mencoba menghentikannya,....tapi...air mataku....tak mau berhenti. Bagaimana ini?” aku bicara dalam isak ku. Sangat aneh kedengarannya.
Dia hanya tertawa mendengarkan suara ku yang aneh.  Tiba-tiba menarikku dalam pelukannya yang besar. Bukannya reda tapi tangisanku semakin keras. Aku membalas pelukannya, bahkan sangat erat.
“Ahhhh....lihat sepertinya kau benar-benar mencintaiku”
Aku memukul belakangnya. Dia hanya tertawa dan memelukku erat. Benar-benar hangat dipelukannya. Dia berbeda sekarang, badannya tegap dan besar, jari-jarinya yang hangat, dan suaranya yang semakin dewasa. Tapi aku suka seperti ini, aku ingin seperti ini selamanya.
Kami berjalan menuju taman kota, dia mengutang banyak penjelasan padaku. Hari ini aku menagi semuanya hingga akar-akarnya. Kami memilih salah satu tempat duduk di bawah pohon rindang. Hujan sudah reda, kayu dan tanah yang basah tercium jelas. Udara juga terasa sejuk.
“Jadi, kemana kau selama ini” tanyaku tak sabar. Dongwoon hanya tersenyum dan menutup mulutnya rapat.
“Heiii...aku tanya padamu!!!!!”
“Bisakah kau tak usah tau tentang itu. Aku sudah berada disini sekarang. Jadi, itu tidak penting lagi” aku menatapnya sinis,  “Ayolah...Ji Eun”
   Aku tersenyum, lucu melihat wajahnya seperti itu. Aku mengangguk, “Baiklah...”
   Tapi ini benar-benar tidak adil. Dia menyuruh ku menceritakan semua kisahku padanya, semenjak kami tidak bersama-sama lagi. Akupun menceritakan hidupku dari A-Z, secara mendetail dan aku lihat dia sangat menikmatinya, kadang dia mengangguk, terdiam, seperti memikirkan sesuatu, tersenyum, bahkan tertawa. Aku suka reaksinya itu, dia masih seperti yang dulu, pendengar cerita yang baik. Tidak terasa hari sudah mulai gelap, kami menghabiskan waktu berjam-jam di taman hanya untuk cerita ku. Dongwoon menawarkan diri mengatarku pulang dengan bus. Saat ini kami sudah ada di depan gedung apartemen ku.
   “Kau tidak ingin masuk” tanyaku.
   “Lain kali saja, kau masukalah, istirahat. Kita sudah menghabiskan waktu seharian ditaman kota”
   “Besok kita bertemu lagikan”
   “Hmmm....pasti. masuklah” dia tersenyum
   Aku mengangguk, lalu berjalan menuju apartemen ku...
   “Ji Eun-aah...!!!!” aku menoleh
   “Aku selalu merindukanmu!!!!”
   Aku tertawa. “Aku tauuuuuuu....sana pulanglah. Hati-hati”
   Dongwoon melambaikan tangannya padaku, lalu beranjak pergi. Hari yang sangat menyenangkan, hari yang tak pernah ada dalam mimpi-mimpiku selama ini. Bahkan kalau mimpipun aku tak pernah ingin bangun.
***
   Aku duduk disamping jendela besar tempat penyewaan komik. Sudah beberapa komik ku habiskan, tapi Dongwoon belum datang-datang juga. Sesekali aku melirik ke jam tanganku.
   Sesorang meniup telingaku, aku langsung berteriak. Aku tahu siapa orangnya dan pelakunya sedang asik tertawa sekarang. Karena teriakan ku, orang-orang memandangku kesal.
   “Mianata...Mianata” kataku sambil membungkuk. Aku benar-benar malu dibuatnya.
Dongwoon masih terus saja tertawa, aku kesal padanya. Kerena tak tahan lagi, aku lalu memukulnya dengan komik di tangan ku. Dia berteriak kesakitan. Dan lihat orang-orang memandangi ku lagi, sinis. Akhirnya aku berhenti melakukannya.
   “Itu sakit. Lagi pula kau terlalu sibuk dengan komik dan headset mu itu. Aku dari tadi melihatmu dari luar jendela, lalu mengetuknya beberapa kali, tau kau tetap saja sibuk dengan duniamu sendiri”
   “Benarkah?” aku mengerlingkan mataku padanya.
   “Hmmm...lagu apa yang kau dengar?”
   Dongwoon lalu mengambil sebelah headset dari telingaku. Aku melihat jari-jarinya bergerak diatas meja, seperti memainkan piano. Aku lihat dia juga sangat menikmatinya.
   “Lagunya enak, apa judulnya?”
   “ On rainy days” aku tersenyum.
   Dongwoon berhenti memaikan jari-jarinya lalu diam menatapku. Aku melihat sedikit demi sedikit bibirnya membentuk senyuman.
   “Sepertinya aku tahu kenapa kau menyukai lagu ini” senyumnya hangat sekali.
   “Hmm..kau memang tahu” kami tertawa. Lalu terdiam menikmati lagu itu.
   Beberapa hari ini kuhabiskan waktu ku bersama Dongwoon. Selesai kuliah dia pasti datang menjemputku. Lalu kami pergi berjalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama. Benar-benar sangat menyenangkan, aku tak sendiri lagi menikmati hujan. Sore, dihari yang mendung dia mengantar ku kembali ke apartemen seperti biasanya.
   “Ji Eun...kau bahagia?”
   “Menurutmu?” aku balik bertanya.
   “Hmm...kau bahagia”    
   “Sangat....” tambahku.
   Dongwoon hanya tersenyum, lalu menyuruhku masuk karena hujan akan segera turun. Aku juga menyuruhnya cepat-cepat pulang, takut dia nanti kehujanan.
   Aku masuk dalam apertemenku, ternyata Yi Seul sudah ada dirumah. Dia menatapku khawatir dan sepertinya dia tak tenang
   “Wae? Apa terjadi sesuatu?” tanyaku penasaran.
   “Ahjumma menyuruh kita pulang sekarang. Aku sudah memesan tiket”
   “Tunggu ada apa ini, apa terjadi sesuatu pada Appa ku” aku mulai panik. Aku mencoba meraih handphone ku dan langsung menghubungi nomor eomma
   “Yeoboseyo eomma, ada apa ini.....apa maksudmu aku tak boleh panik. Tapi kenapa aku harus ke Busan...sesuatu terjadi pada Appa....tapi....tapi....jangan buat aku bingung Ma. Baiklah aku akan segera pulang” aku menutup telpon ku.
   “Kalian benar-benar membuatku gila. Tunggu, aku akan mengambil barang-barang yang harus ku bawa”
   Kami sudah duduk dalam kereta, kami menggunakan kereta cepat jadi kami bisa tiba di busan hanya dalam 2 jam. Aku ingat aku belum memberitahu Dongwoon kalau aku harus ke Busan, dengan alasan yang tidak jelas. Aku mengeluarkan Hp ku dari dalam tas dan ingin mengatifkannya kembali.
   “Ji Eun ya.. Gwenchanayo?kata Yi Seul
   “Aku belum mengabari Dongwoon tentang ini” gerutuku.
   “Ji Eun...jeongmal gwenchana? Akhir-akhir ini kau bersikap aneh”
   “Itu karena aku bahagia Yi Seul. Berhenti menganggap ku aneh, yang aneh itu kau dan eomma. Aku ingin tidur”
   Aku menutup wajahku dengan selimut. Aku mencoba tidur, tapi aku juga masih terus berpikir, ada yang aneh dengan orang-orang didekat ku. Ahhhh....bodoh. aku memaksakan mataku untuk tertutup dan berharap aku benar-benar terlelap.
***
   “Pa...sebenarnya kita mau kemana? Inikan bukan arah  rumah kita”
   “Appaaa...yang ku butuhkan saat ini hanya kasur empukku dirumah bukan perjalanan atau liburan mewah” protesku.
   Yang ku tanya dari tadi hanya menutup mulutnya rapat-rapat. Lalu dia langsung mambawa ku dan Yi Seul entah kemana saat ini, sudah hampir sejam kami diperjalanan. Papa tak mau memberitahu kami. Jadi aku hanya diam saja dan mencoba untuk tidur lagi.
   Yi Seul mengunjang-gunjang bahuku. Aku membuka mata lalu melihat sekelilingku, sepertinya sudah sampai. Tapi dimana ini, Rumah sakit. Aku kaget dan menatap Papa lekat
   “Apa yang terjadi pada Eomma? Hanya Eomma yang tak ada disini’ aku mulai berteriak pada Papa ku
   “ Tenang Ji Eun, ini bukan tentang Eomma mu dia baik-baik saja didalam”
   Ini membuatku sakit kepala, kenapa keluargaku membuatku bingung. Aku mengikuti Papa, disalah satu lorong aku melihat Eomma sedang duduk. Saat dia melihatku, Eomma belari ke arah ku dan memelukku.
   “Ada apa Ma? Siapa yang ada didalam ruangan itu?”
   “Tenang Ji Eun...kajja...” Eomma menarik tangan ku lembut.
   Pintu bercat putih gading itu diketuk Eomma lembut. Seseorang membukanya dari dalam.
   “Ahjumma...!!!!” dia Eommanya Dongwoon, apa yang dia lakukan disini, aku melihat wajah cantiknya yang payah dan matanya yang sembab. Tunggu, aku tahu. Aku menerobos masuk. Didalam ruangan aku melihat seseorang terbaring dengan selang diseluruh tubuhnya. Aku terus mendekat, mencoba membuang semua pikiran burukku, berharap sesuatu yang ku takutkan tak terjadi. Aku semakin dekat dan bisa melihat sosok itu dengan jelas. Aku terkejut, air mataku mengalir, aku menutup mulutku tak percaya. Dia Dongwoon, tapi bukan Dongwoon yang selama ini ku temui. Wajahnya memang sama, tapi yang didepan ku terlihat kuyuh. Wajahnya sangat tirus, tubuhnya juga, nafasnya sangat pendek. Dia seperti mayat hidup, aku mengangkat tangan untuk menyentuhnya. Tapi aku lalu teringat...
   “Dia siapa” pertanyaan bodoh keluar dari mulutku. “DIA SIAPA!!!!!!!” aku mulai berteriak.
   “Dia Dongwoon, Ji Eun. Orang selama ini kau tunggu” Eomma mencoba untuk menenangkan ku.
   “BUKAN MA...DIA BUKAN DONGWOON!!!!! BEBERAPA HARI YANG LALU AKU BERTEMU DENGANNYA, KAMI BERSAMA-SAMA” aku mulai berteriak seperti orang gila, air mataku juga sudah mulai membajiri wajahku.
   Aku melihat kearah Yi Seul. “ Yi Seul kau tahu itu kan, beberapa hari kemarin aku bersamanya kan. KAU TAHU KAN!!!!” Yi Seul hanya tertunduk sedih.
   “Kalian benar-benar membuatku gila” aku berjalan menuju pintu. Eomma menahahanku “Aku butuh udara segar Ma, kepala ku sakit”
   Aku duduk dikursi taman Rumah Sakit berusaha menjernihkan pikiranku. Ini tak bisa ku mengerti. Lalu aku mengmbil Hp ku mencoba menghubungi Dongwoon, tapi berkali-kali Hp itu tak aktif. Aku memegang kepala ku, rasanya sangat berat. Bukan hanya itu, rasa bahagia yang pernah dihatiku kini menjadi rasa hampa. Aku menagis sejadi-jadinya. Terlalu sakit untuk mencoba berfikir jernih. Seseorang menyentuh pundak ku dengan lembut, aku merasakan dia duduk disampingku. Dia hanya diam, tak berkata apa-apa. Aku masih terus saja menutup wajah dengan telapak tangan dan menangis...
   “Kau ingat waktu aku bilang akhir-akhir ini kau terlihat aneh. Itu karena kau terlihat seperti orang yang kurang waras. Beberapa hari saat kau bilang pergi bersama Dongwoon, temanku melihatmu ditempat penyewaan komik bertingkah aneh. Kau tertawa dan bercerita sendiri. Awalnya aku tak percaya, jadi aku mengikutimu. Dan kulihat memang seperti itu. Kau memang sangat bahagia, tapi terlihat aneh karena tak ada orang disampingmu, kau seperti orang gila. Lalu aku menceritakan semua pada eomma mu, hingga aku mendapatkan kabar kalau Dongwoon sedang Koma disini”
   Aku semakin terisak mendengar penjelasan Yi Seul. Apa aku benar-benar seperti itu. Aku tak bisa menahannya lagi. Tangisku semakin keras, Yi Seul menarikku dalam pelukannya, dia juga mengusap-usap bahuku.
   “Maaf...karena awalnya aku mengira kau benar-benar gila karena lelaki itu. Tapi sepertinya aku mengerti sekarang Ji Eun. Kuatkan dirimu”
   Aku tak tahu sudah berapa menit kami terdiam seperti ini. Aku sudah mulai bisa mengontrol perasaanku, Yi Seul benar saat ini aku tidak harus menangisi semua ketololan yang pernah kulakukan. Yang ku butuhkan hanyalah ketegaran untuk bertemu dengan Dongwoon lagi. Dongwoon yang tak sesuai dengan harapan-harpan ku.
   “Ji Eun...Tante boleh bicara sebentar”
   Aku menoleh kearah suara. Aku tersenyum dan mengangguk. Yi Seul juga tersenyum padaku lalu meninggalkan kami berdua. Eomma Dongwoon duduk disebelahku, menyentuh tanganku dan mengelusnya lembut.
   “Tante...tadi....mianhaeyo...jeongmal…
   “Tidak apa-apa Ji Eun, aku tahu saat ini kau pasti kebingungan. Maaf kan tante yang merahasiakan ini terlalu lama padamu”
   “Maksud tante?” aku mulai penasaran.
   “Kau ingat waktu Dongwoon kecelakan didepan sekolah mu. Saat itu dia benar-benar butuh darah. Darahnya hanya cocok dengan Papanya, tapi kau tahu kami sudah bercerai saat itu. Keluarga juga sangat jauh, akhirnya dokter memutuskan untuk mencari pendonor darah saja. Seminggu kemudian dokter mengetahui kalau darah donor itu terinfeksi AIDS” aku mendengar Eomma Dongwoon tercekat saat mengatakan itu, aku juga.
    “Saat itu aku mengamuk, ingin rasanya aku membunuh dokter yang telah membuat anak ku harus terjangkit penyakit setan itu. Aku merahasiakan ini semua pada Dongwoon. Tapi aku tidak tahu dari mana dia tahu masalah itu dan dia juga mengerti. Sejak saat itu dia hanya berbicara tentang mati, lama kelamaan dia mulai menerimanya. Tapi dia memutuskan untuk pindah kekota lain. Dia takut bertemu denganmu, karena akan membuatmu sakit seperti yang dia derita. Sejak saat itu dia tak mau sekolah formal lagi. Kehidupan kami mulai normal dikota baru. Tapi Dongwoon sudah mulai tertutup dengan dunia luar, aku menerapakan Home schooling untuk metode pendidikannya. Saat mulai SMA, dia membujukku untuk kembali kesini. Dia ingin melihatmu tambah sepengetahuanmu. Dia mencari tahu semua pada Eommamu dan Mereka menjadi partner yang kompak...”
   “Jadi selama ini Eomma tahu tentang Dongwoon?” aku tak bisa percaya ini, air mataku mulai jatuh lagi.
   “Tapi jangan menyalahkan Eommamu tentang ini Ji Eun... Dongwoon yang memintanya untuk merahasiakan semuanya. Dia merasa dirinya tak cocok lagi bertemu denganmu. Saat kau pulang sekolah dia selalu menunggumu diseberang jalan. Dia juga sempat memotretmu, mungkin beribu-ribu kali. Setiap dia melihatmu lagi, aku melihat sinar lain dimatanya. Begitu bahagia, tapi itu sangat membuatku terluka, kadang aku ingin menemuimu dan menceritakan semuanya tapi aku takut dia drop” isakan ku mulai terdengar keras sekarang, hatiku benar-benar sakit
   “ Maafkan kami Ji Eun...kami terlalu bodoh menyimpan semua ini dari mu”
   “Lalu siapa yang bersama ku beberapa hari yang lalu” tanyaku dalam tangis.
   “Aku juga masih tidak mengerti. Dia memang sempat beberpa bulan mengikutimu ke Korsel, tiba-tiba disana kondisinya memburuk. Jadi aku menjemputnya, setelah itu dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi, dokter bilang memang sudah waktunya, karena penyakit itu sudah menggrogotinya bertahun-tahun. Daya tahan tubuhnya bahkan sudah mendekati nol persen. Beberpa bulan terakhir dia sempat tak sadarkan diri, ini terjadi berkali-kali. Mungkin saat itu dia datang menemui dengan wujudnya yang lain. Aku tak percaya dengan hal-hal seperti itu, tapi saat kau bilang padaku, aku berpikir mungkin hal itu sedikit masuk akal”
   Aku tak tahan lagi, rasanya sakit sekali. Aku memukul-mukul bagian dadaku, berharap sakitnya berkurang, tapi itu tidak membantu. Aku menangis, ingin rasanya berteriak. Karena menangis rasanya tak cukup.
   “Tolong jangan menyakiti dirimu Ji Eun. Aku tahu kenyataannya sangat berat bahkan rasanya ingin mati. Tapi, Dongwoon masih menunggumu. Kau harus tetap kuat. Tolong bahagiakan anak Tante untuk terakhir kalinya”  kami pun menangis bersama. Aku berjanji ini mennagisku yang terakhir kalinya, Dongwoon harus melihatku tersenyum.
***
   Aku duduk disamping ranjang Dongwoon yang masih tertidur. Kali ini selang dan pembantu pernafasannya sudah dibuka. Aku menatap wajahnya lekat, dia sudah benar-benar berubah menjadi lelaki yang dewasa. Tapi, dia masih tampan seperti dulu saat masih bocah.
   “Heiii....kau tidur seperti kerbau” aku mengunjang-gunjang tangannya, dia tetap saja menutup matanya.
   Aku dengar gemuruh hujan, sepertinya hujan deras sekali. Aku berjalan menuju jendela dan membuka tirainya. Satu persatu titik hujan membasahi kaca jendela. Aku duduk dikursi dekat jendela untuk menikmatinya. Sesekali aku menoleh kearah Dongwoon, berharap dia sudah membuka matanya. Karena kurang tidur dan kelelahan aku tertidur dikursi panjang itu. Saat aku terbangun masih saja tetap sama, dia belum membuka matanya sama sekali. Aku duduk disampingnya lagi, lalu memaikan jari-jarinya.
   “Hmmm...” aku kaget mendengarkan gueomman itu.
   Pelan-pelan ku lihat Dongwoon membuka matanya. Aku tersenyum, dia juga,  sedikit berat tapi tetap manis.
   “ Kau...membuatku...menunggu...terlalu lama” suaranya sangat pelan, hampir seperti berbisik dan terbata-bata.
   “Maaf...aku terlalu sibuk mencarimu ketempat lain. Lagipula, kau tau dimana tempatku berada, kenapa bukan kau saja yang mencariku. Gengsimu terlalu tinggi” dia memukul kepala ku, tapi pukulan tanpa kekuatan.
   “ Maaf...Ji Eun. Aku...benar-benar....minta maaf. Menyimpan....semuanya...karena....aku takut keyataan ini...akan melukaimu. Tapi...pada...akhirnya...semua melukaimu juga” aku mulai menangis lagi, aku mengingkari janji ku sendiri. Aku benar-benar tak bisa menahannya, melihatnya berbicara seperti itu aku tak bisa menahannya.
   “ Aku...sangat merindukanmu Bin, aku merindukanmu...aku merindukanmu” tangisku mulai keras, aku menundukan kepala ku diatas kasur dan menagis sejadi-jadinya. Dongwoon mengusap-ngusap belakangku dengan lembut. Aku juga mendengarkan dia terus mengucapkan kata maaf. Kamipun menagis bersama...
   Alarm Hp ku berbunyi, aku terbangun dari tidurku. Ternyata semalam aku ketiduran...
   “Kau...terbangun?” ternyata Dongwoon belum tidur.
   “Kau tidak tidur? Kau perlu istirahat” aku beranjak untuk mematikan alramku. Ini baru jam 2 shubuh. Ternyata diluar masih hujan, aku menutup tirainya...
   “              Jangan ditutup, aku sedang menikmatinya”
   Aku tetap menutupnya.” Kau tidur saja, sudah mulai shubuh. Kau perlu istirahat. Sebagai gantinya aku akan memberikan pengganti hujan” aku mengambil ipod ku. Lalu  memutar lagu favoritku.
   “ Aku...menyukainya” dia tersenyum.
   “              Aku tahu” aku membalas senyumnya.
   “Ji Eun...kau tahu kalo dari dulu hingga sekarang aku terus...”
   “Hmmm...aku tahu, semuanya aku tahu, tanpa kau katakan pun aku tahu. Tidurlah, kau percaya padaku kan dan bagimanapun keadaan kita selama ini aku selalu bahagia karena mu” aku tersenyum dan merapikan selimutnya.
   “Terima kasih..Ji Eun” aku mencium keningnya. Lalu mengelus tanganya agar dia tertidur.
***
   Hari sudah pagi dan masih hujan. Suaranya masih tetap terdengar. Aku melihat Dongwoon masih tidur, sangat lelap. Ternyata ipod ku semalam lowbath. Aku membuka jendela, terdengar jelas suara hujan. Angin yang bertiup juga sangat sejuk. Aku merasa ada sesuatu yang terlepas dalam hatiku, seperti beban yang terlepas dari pundakku. Tapi itu membuatku hampa. Aku merapikan letak selimut Dongwoon, menatapnya sekilas. Lalu berjalan keluar kamar. Aku duduk dikursi tunggu dengan tenang. Terasa sangat sunyi, bahkan suara hujan tak lagi menarik. Aku melihat suster masuk kedalam kamar, tidak lama kemudian dia berlari keluar memanggil dokter. Dokter segara datang disusul Eomma dan Eomma Dongwoon. Aku tetap diam, Eomma terus bertanya tapi aku tak menggubrisnya. Terdengar suara Eomma Dongwoon menangis dari dalam sana. Eomma kaget, lalu memandangku aneh. Aku tetap memandang ke depan.
   “Eomma...tante lebih membutuhkan Eomma saat ini” aku tersenyum. Eomma berdiri dan masuk ke dalam kamar.
   Aku merasa air mataku jatuh, tapi langsung menghapusnya. Sudah cukup untuk menangis dan bersedih, aku ingin dia percaya bahwa aku benar-benar bahagia.
***
   Hari ini, hari pemakaman Dongwoon. Aku tidak mengikuti prosesinya hingga akhir. Aku ingin berjalan-jalan sebentar. Aku berjalan dibawah gerimis, merentangkan tanganku dan menikmatinya. Terasa titik hujan mengenai wajahku, aku menyukainya. Kita memiliki waktu yang singkat untuk bersama, tapi memiliki waktu yang banyak untuk saling merindukan, yang membuat kita saling memahami. Dongwoon tak meninggalkan ku sendiri, dia mewariskan hujan padaku. Hujan yang mampu menyejukan hatiku seperti dirinya, yang suaranya sangat merdu seperti dirinya dan mampu membuatku mengingat tentang dirinya.
   “Terima kasih, kau memberikan ku sahabat terbaik. Yang sering kita panggil hujan.....”

__ THE END­____ THE END­__

Tidak ada komentar:

Posting Komentar